Rabu, 05 Januari 2011

TENTANG DARNA part.2 antara masalalu, masakini, dan masa mendatang..

Matahari tetap bersinar dari arah timur menuju barat, itu berarti Sang Penguasa jagat masih memberi kesempatan untuk makluk-Nya untuk memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik. Begitu juga dengan anita. Sepeninggal darna, anita seolah menjadi pribadi yang suka murung dan tertutup. Ia merasa kehilangan sosok yang membuatnya merasa nyaman dan selalu ingin tersenyum. Kesehariannya pun hanya dihabiskan di dalam kamar.

“anita…”, terdengar suara dari balik pintu kamar anita. ”anita… bunda ingin masuk sayang”. Karena tak ada jawaban dari anita, bunda’pun memutuskan untuk masuk tanpa izin, kebetulan pintu kamar anita juga tak terkunci.Kamar yang semestinya rapi layaknya kamar perempuan terlihat sangat berantakan. Baju tercecer di setiap sudut kamar, diatas tempat tidur yang berantakan pula terlihat anita yang berbaring tak menghiraukan kedatangan sang bunda.
“sayang… ada apa ini??”, bunda bertanya kepada anita. Namun,anita seolah tak mendengar apa-apa. Ia tetap pada posisinya dan diam seribu bahasa. Bunda beranjak menghampiri sang anak, ia duduk di tepi tempat tidur. Tangannya yang lembut mencoba meraih tubuh anita yang terlihat lemas sekali, anita’pun segera tau diri dengan duduk berhadapan dengan bundanya.
“sayang, bunda tahu kamu sangat kehilangan kakak kamu. Begitu pun dengan bunda dan ayah sayang…”, dengan penuh kasih dibelainya rambut anita.”sudah hampir satu minggu kamu mengurung diri dikamar, kamu harus harus dapat mengiklaskan kakakmu, biarkan dia tenang disisi-Nya” lanjut bunda.
Anita hanya tertunduk diam mendengarkan perkataan bunda. Hanya isak’kan tangis yang dapat didengar darinya.

KEESOKAN PAGINYA…..
Harum embun pagi begitu sejuk dihirup, senandung burung-burung bernyanyi seakan menyambut raja penerangan muncul dari ufuk timur. Semua seolah sudah siap, siap menghadapi dunia yang penuh misteri. Mimpi-mimpi semalam pun telah siap di ukir dialam nyata. Kesibukan itu pula yang terlihat dirumah anita. Dua orang perempuan sedang sibuk mempersiapkan makanan didapur. Salah satu dari mereka nyakni anita.
“sudah’lah neng, biar bibi saja yang menyiapkan sarapannya”
“aduh bi’inah ini gimana sih, dibantu malah nggak mau!!”, sahut anita.
“bukannya gitu neng, eneng ini kan masih tampak pucat. Takunya nanti ada apa-apa bibi lagi yang disalahin sama bunda”.
“tenag aja bi, anita sudah sehat kok!! Mendingan sekarang bibi ke kamar bunda, bilangin kalau makanan sudah siap!!”, kata anita serambi meletakkan masakan yang baru dimasaknya sama bi’inah ke maja makan.
Langkahnya nampak begitu cekatan, diketuknya perlahan pintu sang majikan.
“buk…makanannya sudah siap”, kata bi’inah.
Pintu’pun terbuka.”iya bi, tumben bibi kemari. Biasanya juga nunggu saya sama ayah ke ruang makan??”, Tanya bunda.
“iya buk, soalnya ini permintaan neng’anita. Sejak tadi pagi neng’anita sudah bangun dan bantu bibi masak di dapur buk, padahal saya sudah larang lo..takutnya kalau neng’anita belum sehat betul. Tapi neng’anita tetep bandel dan ngotot mau bantu nyiapin sarapan buat ibuk dan ayah katanya”, tangkas bibi yang menceritakan perihal tingkah anak majikannya tersebut.
“jadi anita sudah mau keluar kamar bi??,Tanya bunda.
“iya buk…”jawab bibi.
“ya sudah sebentar lagi saya sama ayah menyusul ke ruang makan”.
Bi’inah beranjak pergi meninggalkan kamar majikannya. Bunda’pun kembali menutup pintu kamar. Didalam kamar bunda segera menceritakan apa yang terjadi pada anita pada ayah.
“yah, anita sudah mau kluar kamar lo,, malahan sekarang dia lagi nyiapin sarapan buat kita”, kata bunda dengan bingar wajah sumringah .
“ya bagus donk bun…oia memangnya bunda sudah beritahu anita soal kita harus pergi ke singapura hari ini??”, Tanya ayah.
“ya belum’lah yah, semalam bunda masih belum berani. Melihat kondisi dia yang seperti semalam saja bunda tidak tega, apalagi harus membicarakan soal itu”, jawab bunda.
“la trus bagaimana bun,, hari ini kan kita harus berangkat ke singapur”
“apa nggak bisa ayah saja yang pergi ke sana??”
“ya nggak bisa dong bun… bunda kan tahu sendiri ini bukan projek biasa??, kalau bunda nggak ikut apa kata rekan bisnis ayah nanti”
“hehhh… yasudah’lah yah, nanti biar bunda coba bicara sama anita. Sekarang mending sarapan dulu, anak tersayang sudah menunngu tu”, jawab bunda.
Sepasang suami-iatri itu’pun bergegas menuju ruang makan, disana sudah nampak anita dan bi’inah sedang mempersiapkan hidangan sarapan pagi. Ayah dan bunda’pun segera bergabung. Kini keluarga kecil itu nampak kembali seperti dulu. Sesuatu yang hilang’pun seolah telah mereka lupakan. Setelah selesai sarapan pagi, bunda mengajak anita berbicara di teras belakang rumah.
“oiya sayang, kapan kamu mulai masuk sekolah??”
“besok aku sudah masuk sekolah kok bun”
“kamu yakin?”, Tanya bunda.
“iya… bunda tenang aja, aku sudah sehat kok”, jawab anita dengan mimik ceria.
“syukurlah kalau begitu, bunda ikut senang mendengarnya”, bunda’pun ikut tersenyum melihat anak perempuannya nampak begitu bergairah kembali manapaki jalan hidup.
“tapi bunda, aku boleh minta perminta’an nggak??”
“tentu saja boleh dong sayang. Kamu mau minta apa memangnya??”, Tanya bunda.
“besok bunda anterin anita ke sekolah ya…!!!”.
Wajah bunda’pun berubah menjadi nampak bingung.
“bunda kenapa??, anita bertanya karena bunda tak kunjung menjawab pertanyaannya. “apa bunda tidak bisa mengantar anita besok??”, lanjut anita.
“bukannya begitu sayang….”,belum selesai bunda menjawab anita berkata lagi.
“nggak apa-apa kok bun!!, kan masih ada besoknya lagi” senyum merekah kembali dibibir anita.
“sayang…bukannya bunda tidak mau mengantar kamu ke sekolah, tapi hari ini bunda bersama ayah harus berangkat ke singapura sayang!!”, jelas bunda dengan lembut. Bunda takut kalau jawabannya akan membuat putri kesayangannya kembali terpuruk.
“berapa lama bunda pergi??”, Tanya anita dengan lembut pula seakan harapannya telah digempur dengan kenyataan.
“bunda pergi selama satu minggu sayang. Tapi bunda berjanji setelah urusan bunda sama ayah selesai, bunda akan segera kembali dan bunda akan siap setiap hari mengantar kamu ke sekolah, mengajak kamu jalan-jalan, pokoknya kita seru-seru’an nanti”, kata bunda dengan penuh semangat seakan mengisi harapan itu kembali dengan impian-impian yang indah. Anita hanya terdiam mendengar semua itu, dipeluknya tubuh bunda seperti dulu ia memeluk darna. Bayangan akan sepinya hari-hari yang akan ia lalui sebisa mungkin ia usir dari pikirannya.
Bangunan itu telah terisi dengan jiwa-jiwa yang penuh mimpi, semua yang berada di tempat tersebut tentu memiliki misi yang berbeda. Begitu pula dengan anita, prioritas utamanya hari ini tentu bukan untuk sekedar belajar saja. Melainkan juga untuk mengusir kesendiriannya. Semua yang ada di tempat itu seolah ingin dia sapa. Mulai dari mas’arip, satpam sekolah yang tinggi,kekar, agak hitam bak orang india, guru-guru, dan teman-teman yang sepertinya sudah lama sekali tidak ia temui. Sekolah “candareksa” , sekolah yang dibangun dekitar 17tahun yang lalu ini memang tergolong masih muda dibanding sekolah-sekolah lainnya. Bangunannya pun masih belum seberapa mewah, hanya mungkin lokasinya saja yang tergolong mewah ( mepet sawah ) begitu murid-murid sini menyebutnya. Namun jangan salah dengan kualitas murid-muridnya, soal yang satu ini “candaraksa” mampu unjuk gigi juga lo…
“anita…….”, terdengar seruan panjang dari kejahuan yang memanggil namanya. Anita’pun berbalik arah menuju asal muasal suara yang memanggil namanya, dan dia tersenyum. Rupanya itu suara nova, salah satu sahabat terbaik yang anita miliki. Nova’pun berlari menghampiri sahabatnya.
“ya’ampun nit… apa kabar??? Kok masuk sekolah nggak bilang-bilang sih!!!”, Tanya nova tentu dengan gaya ceplas-ceplosnya.
“ya ini kan buat kejutan va,hehehe…kabar aku baik kok!! Kamu sendiri bagaimana??”
“aku juga baik kok”
“iya keliatan kok baiknya, tu liat badan kamu aja tambah subur banget”
“ya nggak gitu juga kali nit, kalo ini mah uwdah bawa’an orok kale… tapi nggak ada kamu aku juga kesepian lo, kemana-mana nggak ada yang nemenin, hehhh sebelll..”, jawab nova dengan mimik cemberut.
“owh,,, masak segitunya sih,,??”, goda anita.
“ih kamu ini dibilangin nggak percaya, kamu juga sih pakek nggak masuk sekolah lama banget!!!.ups…”, nova menutup mulutnya, ia tahu sepertinya ia salah ngomong. “soriiii…. Aku keceplosan”, lanjutnya.
“nggakpapa lagi va, emang aku lama banget kok nggak masuknya”, jawab anita dengan penuh pengertian. Ia seolah paham sekali dengan sifat sahabatnya itu.
“soriii ya, aku juga nggak jenguk kamu waktu dalam kondisi itu. Dasar aku emang bukan sahabat yang baik, ada sahabatnya lagi susah malah ditinggalin. Soalnya aku takut malah ganggu kamu nit, takutnya kamu lagi pengen sendiri eh,,,malah aku nongol. Tapi aku slalu doa’in kamu kok!!!, aku berdo’a supaya kamu tetap tegar, tetep kuat,dan diberi kekuatan”, jelas nova, karena dia tahu sebenarnya anita masih tampak belum 100% kembali ke kondisi semula, jauh didasar batinnya, dia pasti masih sangat merasa kehilangan. Kehilangan cahaya yang slama ini ia banggakan.
“makasih ya va. Tapi yasudahlah nggak usah dibahas lagi soal itu, buktinya aku sekarang ada disini kan. Ini tu juga berkat do’a-do’a kamu”. Anita tersenyum, entah senyum apa itu. Apakah senyum yang benar-benar melukiskan perasa’annya saat ini, atau hanya untuk menutupi perasa’an yang sebenarnya.