Minggu, 07 Maret 2010

Tentang Darna

Tentang Darna

“Aku tak peduli dengan apa yang mereka bilang tentang hubungan kita ini. Aku akan tetap ada di samping mu,dan aku harap kamu’pun juga merasa seperti itu terhadap ku.”

Anita hanya dapat terdiam dan berlutut di hadapan pusara Darna. Air mata nya seolah enggan berhenti mengalir membasahi wajah yang kini tampak sayu karena kebanyakan mengeluarkan air mata. Angan nya terus-menerus membayangkan kata-kata Darna sa’at masih berada di sisihnya.

“mana janji kamu kak??kenapa kamu tega membiarkan aku menanggung beban ini sendirian??”,kata Anita memecah kesunyian area pemakaman candabuwana . Area itu memang telah di tinggalkan para pelayatnya sejak satu jam yang lalu. Hanya Anita seorang diri yang masih setia berada di area pemakaman itu. Anita seakan belum bisa mengiklaskan kepergian Darna Cahya Bintang .

“kenapa kak???jawab…!!!kamu bilang,egh,,,,hiks,,kamu akan tetap menemani aku,selalu ada di sisi aku. Jawab Darna,jangan kamu diam seperti ini”,isak tangis berpadu suara rintihan Anita seolah menegaskan betapa Anita sungguh-sungguh mencintai seorang Darna. Tangan lentik nya tak henti-henti meremas,menggegem gundukan tanah pusara Darna dan kemudian menghempaskannya kembali.

Kini Anita berada di dalam sebuah kamar yang penuh dengan cerita antara dirinya dan Darna. Hal itu dipertegas dengan banyak nya foto-foto yang menghiasi setiap sudut ruangan yang selalu menjadi persinggahannya setiap malam. Mata nya yang lebab serasa kosong, tak jelas apa yang sedang di amati nya. Pikiran Anita melayang jauh menembus ruang dan waktu yang berbeda. Waktu di mana dia masih bisa memeluk tubuh sang puja’an hati. Melewati kehidupan yang dirasa teramat manis untuk dilupakan.

“Kak aku takut kalau aku harus melepaskanmu”,kata Anita yang sedang berada di dalam pelukan Darna.
“Aku tak akan pernah melepaskanmu”,jawab Darna.
“Tapi bagaimana kalau memang keada’an yang mengharuskan aku memang harus melepasmu kak,?sesungguh nya aku sangat tak menginginkan semua itu terjadi.”
“Aku tak peduli dengan apa yang mereka bilang tentang hubungan kita ini. Aku akan tetap ada di samping mu,dan aku harap kamu’pun juga merasa seperti itu terhadap ku”.

Darna menggenggam erat tangan Anita yang memeluk tubuh nya. Angin yang berhembus pelan seolah mengusir keraguan yang ada di benak ke dua remaja itu. Pohon pinus tempat berteduh mereka berdua’pun seakan menawarkan keindahan dengan menggugurkan beberapa daun nya.”Alam mendukungku kali ini”,pikir Anita. Sehingga ia’pun tak ragu untuk lebih merapatkan pelukannya ke Darna,merasakan sejenak kehangatan yang penuh kedamaian.

Air mata yang telah jatuh membasahi bumi
Takkan sanggup menghapus gelisah
Penyesalan yang kini ada
Jadi tak berarti
Karna waktu yang bengis terus pergi
Menangislah bila harus menangis
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmah
Dibalik segala duka tersimpan hikmah
Yang bisa kita petik pelajaran
Dibalik segala suka tersimpan hikmah
Yang kan mungkin bisa jadi cobaan….

Anita bangkit dalam tidurnya,ia berjalan menuju kamar mandi yang terletak di samping kiri kamar tidurnya. Ia ingin mengusir kesendirian lewat siraman air yang mengguyur sekujur tubuh mungilnya. Setelah merasa lebih segar,Anita kembali menuju kamar tempat nya menumpahkan isi hati yang ada. Sa’at ia berjalan menuju kamar pribadinya, mata Anita tertuju pada sebuah kamar lain yang terletak di smping kanan kamarnya.

Perlahan di buka nya pintu kamar tersebut, tubuh Anita’pun terdorong ingin masuk. Kamar itu terlihat sangat berbeda sekali dengan kamar milik Anita, Kamar ini terkesan tak beraturan,mungkin memang mencerminkan pemiliknya yang berkepribasian cuek. Air mata Anita kembali mengalir, langkah nya kini beranjak menghampiri lukisan dinding yang terletak tepat di samping candela kamar tersebut. Lukisan tersebut berukuran sangat besar sehingga terlihat kokoh menempel pada dinding kamar.

Lukisan yang mencerminkan keakrapan dua anak kecil berumur sekitar 4 tahun. Disamping kiri-kanan lukisan itu terpampang jelas huruf-huruf yang membentuk deretan nama. Anita cahya bulan dan Darna Cahya Bintang. Mata anita terbelalak lebar seolah menunjukan pemberontakkan yang sangat kuat.
“Tidak………….”,suara anita melengking tinggi berharap semua ini hanya mimpi. Tapi ini bukan mimpi Anita cahya bulan dan Darna Cahya Bintang memang mempunyai hubungan darah yang sangat kuat. Mereka di lahirkan dari rahim yang sama. Kelahiran mereka berdua’pun hanya berselang beberapa detik saja. Kebersama’an yang tercipta antara mereka berdua telah melenceng kearah yang tak semestinya di tempuh. Benih cinta telah menguasai kehidupan Anita dan Darna. Sehingga mereka seakan tak perduli lagi dengan ada nya norma yang ada. Semua nya tertutupi tanpa ada yang mengira, bahwa hubungan antara Anita dan Darna terdapat hubungan yang lebih dari sekedar saudara kembar. Hubungan yang mengalir tanpa mereka tahu sejak kapan perasa’an itu mulai mengusai sluruh perasa’an masing-masing.

Masalalu itu kembali terbayang, Anita masih mengenakan seragam sekolah yang lengkap. Tubuh nya berdiri sempurna di depan gerbang sekolah “Candaraksa”, kepalanya berpadu dengan matanya bolak-balik melirik serta melihat ke arah sisi kanannya. Anita sedang menanti, menanti kedatangan seseorang yang membuatnya serasa cepat-cepat ingin berjumpa.

“Mana sih ni orang!!!”,gumamnya. Detik merambat jadi menit,menit’pun telah bertambah hingga tak terasa sudah satu jam Anita menanti kedatangan Darna. Hingga akhirnya di putuskannya ia pulang sendiri. Anita merasa ia harus cepat-cepat pulang.

Setibanya di rumah, Anita segera menuju ke dalam kamar seperti biasa yang di lakukannya. Ayah dan Bunda Anita memang jarang berada di rumah, itu sebabnya kehadiran Darna begitu berarti untuk mengusir kesepian yang ada. Setelah mengganti baju seragam sekolah dengan baju rumahnya, Anita beranjak ke luar kamar dan menuju dapur. Kali ini Anita sepertinya ingin mengisi perut yang sejak tadi sudah mulai memprotes untuk di isi ulang. Mata Anita melirik sana-sini mencari-cari makanan yang dapat ia makan. Namun tak ia temukan juga.“Apa bibi lupa masak ya?”,pikirnya. Anita berjalan menuju “lemari es” yang terletak di pojok ruangan dapur ini. Tangannya tak langsung membuka pintu “lemari es” tersebut, Anita lebih tertarik pada secarcik kertas yang tertempel pada “lemari es” itu.

Adik sayang…. Ayah,Bunda dan Bibi sekarang berada di rumah sakit “Bunda sayang”. Hp adik dari tadi di hubungi tapi tidak bisa, kalau adik sudah berada di rumah tolong langsung ke rumah sakit ya…..!!!
(Ayah)

Dalam hati Anita bertanya-tanya, siapakah yang sedang sakit hingga ayah dan bundanya rela kembali ke tanah air. Detak jantung Anita’pun mulai meningkat dari semula. Tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Keada’an lapar yang mendera perutnya tak di hiraukannya lagi. Pikirannya hanya tertuju pada rumah sakit “Bunda Sayang “.

Setelah sampai di sana, ayah Anita sudah berada di depan pintu rumah sakit. Tak ada bunda atau’pun bibi bersamanya. Wajah ayah Anita tampak bingung, dan kebingungan itu sedikit berkurang setelah melihat kehadiran putri kesayangannya.

“Ayah siapa yang sakit??”,Tanya Anita. Lelaki paruh baya itu hanya terdiam, kemudian memeluk tubuh putri kesayangannya. Kini Anita yang tampak bingung mendapati tingkah laku ayahnya. Pelukan yang di berikan lelaki paruh baya itu tak seperti biasanya. Pelukan itu serasa sedih dirasakan Anita. Lirih lembut bibir ayah Anita’pun mulai terbuka. Kata-katanya teramat jelas ditelinga Anita, karena memang jarak antara bibir ayahnya dan telinga Anita hanya berkisar beberapa cm saja.

“Kakak kamu sekarang sedang dalam keada’an yang sangat kritis, tadi dia mengalami kecelaka’an yang teramat parah sa’at dalam perjalanan menuju sekolah mu, kita berdo’a saja ya semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kakak mu”.

Perlahan pelukan itu terlepas dari tubuh Anita, air mata tak dapat terbendung lagi hingga aliran itu’pun kini menghiasi wajah Anita. Tubuhnya serasa lemas bagaikan tak bertulang. Anita tak sadarkan diri. Dokter dan suster mulai keluar dari ruang operasi tempat di mana Darna dirawat. Wajah dokter tersebut seakan mengguratkan rasa kegagalan yang akan disambut haru oleh keluarga dari Darna. Bunda Anita langsung memeluk tubuh suaminya.

Anita masih tampak terkulai lemas di pelukan sang bibi yang sedang duduk di ruang tunggu koridor rumah sakit. Matanya perlahan mulai terbuka, Anita mendapati ayah dan bundanya sedang menangis tersedu-sedu sambil berpelukan. Dipaksakan tubuhnya berdiri dan bertanya kepada bunda hal apakah yang membuatnya menangis tersedu-sedu. Anita tak percaya dengan apa yang dikatakan bundanya.
“Anita kakak kamu,,,,MENINGGAL!!”

Anita spontan langsung berlari dan membuka pintu ruangan operasi, matanya terbelalak melihat tubuh sang kakak yang sudah tertutup kain biru. Perlahan didekatinya sosok itu, tangan nya membuka sebagian kain yang menutupi wajah kakaknya. Air mata itu’pun kembali berderai, mulut Anita merintih pilu melihat wajah sang kakak yang di cintainya penuh dengan goresan luka dan tampak pucat pasi. Tak kuat rasanya Anita melihat semua itu, Anita memeluk tubuh kakaknya mencoba menepis kenyataan yang terjadi.

Kini semua hanyalah tinggal kenangan,mungkin memang itu’lah yang terbaik bagi Anita dan Darna. Bagaimana’pun juga cinta mereka itu terhalang oleh kenyata’an norma yang mereka harus bisa menerima. Darna adalah Anita,Anita adalah Darna. Namun cinta yang mereka miliki tak sepatutnya dapat dipersalahkan. Cinta memang dapat membutakan bagi siapa saja yang telah terlena di dalam nya. Cinta mampu membuat tegar namun dapat pula melumpuhkan. Itu’lah cinta akan tetap ada selama darah masih tetap mengalir dan baru akan berhenti ketika darah itu’pun berhenti. Jangan pernah menyepelekan sebuah cinta, jika kamu sendiri dapat terbuai oleh nya.


bersambung.......

tentang asa

Asa itu akan semakin menjadi-jadi di benak mu, ketika kamu terpaku dengan daya ingin mu itu. Jangan jadikan asa itu menguasai seluruh pikiran mu, biar kan saja asa itu menuntun mu sampai kamu menemukan asa yang menjadi impian yang nyata.